Budaya Makanan

Kita pasti sudah sangat tahu bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki beragam budaya. Berbagai macam budaya di Indonesia seperti suku yang banyak, adat istiadat yang banyak tersebut berkaitan dengan makanan yang ada di Indonesia. Makanan di Indonesia banyak yang memiliki nilai budaya tersendiri atau sejarah masa lalu tersendiri. Berikut ini saya akan membahas beberapa makanan di Indonesia yang memiliki nilai budaya :

1. Kaledo
Makanan ini merupakan makanan khas kota Palu yang berada di Sulawesi Tengah. Kaledo namanya, apabila dilihat dari namanya, ternyata kaledo ini merupakan singkatan dari Kaki Lembu Donggala. Makanan ini merupakan makanan khas masyarakat Donggala. Kaledo mirip dengan sop buntut tetapi tulangnya berasal dari kaki lembu dan disajikan dengan ubi, tidak dengan nasi seperti pada sop buntut pada umumnya. Kata kaledo ini berasal dari Bahasa Kaili yaitu bahasa penduduk Palu yang artinya adalah Ka, keras dan Ledo, tidak, sehingga memiliki arti tidak keras karena tulang yang digunakan berasal dari ruas tulang lutut yang masih penuh dengan sum-sum.

Berdasarkan berita yang ditulis di http://wisatasulawesi.com/lezatnya-kaledo-kuliner-khas-sulawesi-tengah/, ada sebuah cerita mengenai asal mula makanan kaledo ini. Saya akan berbagi sedikit cerita mengenai makanan kaledo ini. Pada zaman dahulu, di wilayah Sulawesi Tengah terdapat orang yang sangat dermawan dan mulia hatinya sehingga ia membagi-bagikan daging sapi kepada penduduk desa. Terdapat tiga jenis suku yang menjadi penduduk di desa tersebut yaitu orang Jawa, orang Makassar, dan orang Kaili (suku asli Donggala). Daging sapi yang pertama diberikan kepada orang Jawa sehingga orang Jawa memanfaatkan daging sapi tersebut menjadi bahan dasar pembuatan pentol bakso. Orang kedua yang menerima adalah orang Makassar. Orang Makassar hanya mendapatkan jeroan (isi perut sapi) kemudian memasaknya sehingga menjadi makanan yang disebut dengan Coto Makassar. Karena orang Kaili datang terlambat maka hanya memperoleh tulang-tulang kaki sapi dengan sedikit daging yang menempel pada tulang sehingga hanya tulang yang dimasak dan dari sinilah nama kaledo berasal.

Masyarakat Sulawesi Tengah menghidangkan kaledo ketika Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha tiba. Biasanya dihidangkan dengan tambahan burasa (beras diberi tambahan air santan, kemudian dibungkus dengan daun pisang dan langsung direbus).


2. Apem Boyolali
Sesuai dengan namanya, pastinya berasal dari Boyolali. Sekilas tentang Apem ini, di Boyolali ada tradisi menyebar kue apem keongmas yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Sapar dalam kalender Jawa. Tradisi sebar apem itu terjadi ketika lahan pertanian di kawasan Pengging Banyudono terserang hama keong mas. Bencana ini menyebabkan Raden Ngabehi Yosodipuro meminta petani di Pengging memasak apem keong mas untuk dibagikan kepada masyarakat Pengging sebagai harapan dan doa kepada Yang Maha Kuasa agar terhindar dari hama keong mas ini. Setelah para petani membuat apem dan dibagikan kepada orang lain, maka akhirnya hama keong mas ini berhasil dimusnahkan. Sebagai wujud syukur maka setiap bulan Sapar diadakan tradisi ini dengan maknanya adalah bahwa hanya kepada Yang Maha Kuasa senantiasa kita berdoa dan memohon.

Tradisi ini dilaksanakan di objek wisata Pengging tepatnya di lingkungan Masjid Cipto Mulyo. Tradisi yang dinamakan "Sebar Apem Keong Mas" ini telah dilakukan sejak masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono X. Apem yang dibagikan ini terbuat dari tepung beras dengan bungkus janur atau daun kelapa yang masih muda.

3. Roti Buaya
Jika dilihat dari namanya, roti ini berbentuk buaya. Ya, benar, roti yang berbentuk buaya ini adalah makanan khas Betawi yang selalu menghiasi acara pernikahan masyarakat Betawi. Roti Buaya ini selalu dijadikan bawaan pengantin pria terhadap pengantin wanita di dalam pernikahan atau lamaran orang Betawi. Kemudian, roti buaya ini dibagikan kepada tamu undangan yang masih lajang dan yang menerimanya segera akan mendapatkan jodoh dan menikah. Asal mula roti buaya menghiasi adat Betawi adalah ketika bangsa Eropa masuk ke Indonesia dan mempengaruhi pikiran masyarakat asli Jakarta bahwa setiap acara pernikahan atau lamaran harus memiliki sebuah simbol. Pada saat itu, simbol masyarakat Eropa adalah bunga dan masyarakat asli Jakarta memilih roti buaya sebagai simbol.

Menurut kepercayaan suku Betawi, roti buaya adalah simbol yang melambangkan kemapanan dan kesetiaan sampai akhir. Makna kemapanan ini diperoleh karena sebuah roti hanya dapat dimakan oleh bangsawan - bangsawan pada zaman tersebut. Sedangkan makna kesetiaan adalah pada buaya yaitu semasa hidupnya buaya hanya melakukan satu kali pernikahan.

4. Ketupat Lebaran
Ketupat lebaran erat kaitannya dengan hari raya idul fitri. Lalu bagaimana sejarah ketupat sehingga menjadi identik dengan hari raya idul fitri? Kanjeng Sunan Kalijaga pertama kali memperkenalkan ketupat kepada masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran. Pada hari yang disebut BAKDA KUPAT tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah selesai dianyam, ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan. 

Ketupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat memiliki arti mengakui kesalahan sedangkan Laku Papat artinya empat tindakan. Kita tahu bahwa setiap hari raya idul fitri adalah momen untuk saling memaafkan antar saudara, ini merupakan tradisi sungkeman yang menjadi implementasi ngaku lepat (mengaku kesalahan) bagi orang Jawa. Sedangkan laku papat artinya adalah empat tindakan dalam perayaan lebaran. Empat tindakan ini adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan. 

Lebaran memiliki arti usai, berakhirnya waktu puasa, berasal dari kata lebar yang artinya adalah pintu ampunan telah terbuka lebar.
Luberan memiliki makna meluber atau melimpah. Sebagai simbol bersedekah untuk kaum miskin.
Leburan memiliki makna habis dan melebur yaitu pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam memaafkan satu sama lain.
Laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya adalah supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Ketupat memiliki filosofi sebagai berikut :
a) Mencerminkan beragam kesalahan manusia yang terlihat dari bungkusannya yang rumit

b) Kesucian hati. Ketika ketupat dibuka akan terlihat nasi putih yang melambangkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampun dari segala kesalahan
c) Mencerminkan kesempurnaan. Bentuk ketupat yang begitu sempurna dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan menginjak Idul Fitri
d) Ketupat yang biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan maka dalam pantun jawa ada yang bilang "KUPA SANTEN" (Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten) - Saya salah mohon maaf.

5. Dendeng
Dendeng adalah daging yang dipotong tipis menjadi serpihan yang lemaknya dipangkas, dibumbui dengan saus asam, asin, atau manis dan dikeringkan dengan api kecil atau dijemur. Dendeng berasal dari Minang, salah satu jenisnya sering juga disebut dengan dendeng batakok yang berasal dari nama tokok yang berarti dipukul dalam bahasa Minang. Cara memasak ini dipukul pukul sehingga bahan daging menjadi halus. Daging sapi yang telah diiris kemudian dipukul pukul dengan menggunakan alat yang disebut cobek, agar daging sapi menjadi lembut dan tidak kenyal. 

6. Kue Keranjang
Kue keranjang erat kaitannya dengan tradisi imlek. Kue keranjang dalam bahasa mandarin disebut dengan Nian Gao atau dalam bahasa Hokkian disebut dengan Ti Kwe, yang diperoleh dari wadah cetakan kue yang berbentuk keranjang. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula yang menjadikan kue keranjang ini memiliki tekstur yang kenyal dan lengket. 

Kue keranjang digunakan sebagai sesaji dalam upacara persembahan kepada leluhur saat tujuh hati menjelang tahun baru imlek. Pada malam menjelang tahun baru imlek, kue ini tidak dimakan hingga hari Cap Go Meh atau malam ke 15 setelah tahun baru imlek. 

Dalam bahasa Hokkian, Ti Kwe memiliki arti sebagai kue manis yang sering disusun tinggi sebagai arti dari peningkatan rejeki atau kemakmuran. Penyantapan kue keranjang ini memiliki makna mengharapkan keberuntungan dalam pekerjaan.

Berdasarkan legendanya, pada zaman China kuno, ada raksasa bernama Nian tinggal di sebuah gua di gunung dan akan keluar dari gua untuk berburu hewan ketika ia merasa lapar saja. Apabila musim dingin tiba maka banyak hewan-hewan yang berhibernasi dan membuat Nian turun ke desa-desa dan mencari korban untuk disantap ketika ia lapar. Warga desa sangat ketakutan dengan keberadaan Nian. 
Suatu saat ada seorang warga desa yang cerdik bernama Gao, ia membuat beberapa kue sederhana yang terbuat dari campuran tepung ketan dan gula dan diletakkan di depan pintu untuk diberikan kepada Nian. Sehingga ketika Nian akan mencari mangsa, maka ia tidak mencari manusia untuk dijadikan sebagai santapannya, tetapi ia memangsa kue tersebut yang ada di depan pintu dan setelah kenyang, ia meninggalkan desa. 

Selain legenda tersebut, kue keranjang juga ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga. Secara filosofis, kue yang lengket ini memiliki arti persaudaraan yang erat dan menyatu. Rasa kue keranjang yang manis ini juga menggambarkan rasa suka cita, menikmati keberkatan dan selalu memberikan yang terbaik dalam hidup. 

Bentuk yang bulat melambangkan pesan kekeluargaan yaitu akan bersama tanpa batas waktu dan memiliki makna agar setidaknya dalam satu tahun, keluarga dapat saling berkumpul. 
Tekstur yang kenyal adalah simbol dari kegigihan, keuletan, daya juang, dan pantang menyerah untuk meraih tujuan hidup. Daya tahan kue yang lama memiliki arti hubungan yang tetap meskipun zaman berubah. Proses pembuatannya yang alama pun memiliki arti kesabaran, keteguhan, serta cita-cita untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

7. Klappertaart
Klappertaart ini sebenarnya adalah salah satu kuliner warisan kolonialisme Belanda dimana resepnya dibawa oleh para pedagang Belanda sendiri. Klappertaart ini pada awalnya hanya tersebar di Manado sehingga disangka sebagai makanan khas Manado. Klappertaart ini merupakan dessert berbahan dasar kelapa, tepung terigu, susu, mentega, dan telur. Apabila dipanggang dan menggunakan krim putih di atasnya maka akan menghasilkan klappertaart yang padat tetapi apabila tidak dipanggang, akan menghasilkan tekstur yang lembut. Kue ini paling nikmat dikonsumsi saat keadaan dingin.

8. Lapis Legit
Lapis legit adalah salah satu kue unggulan Indonesia. Kue ini lekat dengan banyak budaya di Indonesia seperti lebaran, imlek, dan acara pernikahan. Bagi etnis Tionghoa yang ada di Indonesia, lapis legit merupakan resep khusus warisan nenek moyang saat bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda. Lapis legit ini mengombinasikan resep bolu dari penjajah dengan rempah-rempah asli Indonesia. Resep lapis legit rempah-rempah ini dirahasiakan sehingga hanya peranakan Indonesia saja yang mengetahuinya. Lapis legit memiliki nama lain spekkoek. Biasanya kue ini disajikan sebagai kudapan atau hidangan pencuci mulut dalam jamuan. Pada saat imlek, kue ini memiliki lambang kesuksesan di tahun yang baru. Orang China memiliki kepercayaan jika pada lapisan kue ini semakin banyak maka semakin berlapis lapis (semakin banyak) pula rejeki yang akan datang.

9. Kue Mangkok
Kue mangkok sedikit menyerupai bolu kukus tetapi memiliki warna merah cerah. Warna ini melambangkan kebahagiaan dalam kepercayaan etnis Tionghoa. Merekahnya kue mangkok ini melambangkan harapan dalam kehidupan. Kue mangkok menjadi salah satu persembahan bagi para leluhur di setiap upacara perayaan, ini melambangkan dunia, akhirat, dan neraka. Sembahyang dengan menyertakan kue mangkok berarti menginginkan harapan kita seperti kue tersebut yaitu merekah dan disampaikan kepada dewa atau leluhur.

10. Ombus - Ombus
Ombus-ombus adalah makanan atau jajanan khas Batak yang berasal dari Siborongborong, Tapanuli Utara. Kue ini terbuat dari tepung beras yang diberi gula di tengahnya dan dibungkus dengan daun pisang. Almarhum Anggiat Siahaan adalah pencetus nama ombus-ombus. Awalnya, sekitar tahun 1940an, Almarhum Musik Sihombing memulai usaha berjualan lepet di rumahnya. Mereka memberi nama Lappet Bulung Tetap Panas. Kemudian, Almarhum Anggiat Siahaan datang dan ikut membuat lapat seperti yang telah dimulai oleh Almarhum Musik Sihombing. Almarhum Anggiat Siahaan kemudian berjualan dengan mengayuh sepeda dari desanya. Saat berjualan, muncul ide kreatif memberikan nama simpel lebih menarik yaitu Ombus-Ombus No.1. Dalam bahasa Batak, artinya adalah tiup - tiup. Alasan diberikan nama ini adalah karena lepat tersebut enak dimakan saat panas-panas. Pada akhirnya Anggiat Siahaan meninggal, maka usaha ini diteruskan oleh keturunannya hingga sekarang. 

11. Lepet
Lepet atau leupeut dibuat dari beras ketan yang dicampur kacang dan dimasak dalam santan kemudian dibungkus daun janur. Biasanya dimakan sebagai kudapan.

12. Lumpia Semarang 
Lumpia Semarang adalah makanan seperti rollade yang berisi rebung, telur, daging ayam, atau udang. Rasanya merupakan perpaduan rasa antara Tionghoa dan Indonesia karena pertama kali dibuat oleh seorang keturunan Tionghoa yang menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Semarang. Mereka adalah Tjoa Thay Joe yang lahir di Fujian kemudian memutuskan untuk tinggal di Semarang dan membuka bisnis makanan khas Tionghoa yang berupa makanan pelengkap berisi daging babi dan rebung. Kemudian ia bertemu dengan Mbak Wasih yang berjualan makanan hampir sama hanya saja rasanya lebih manis dan berisi kentang dan udang.
Mereka berdua kemudian jatuh cinta dan bisnisnya pun melebur menjadi satu dengan perubahan yaitu isi dari kulit lumpia dirubah menjadi ayam atau udang yang dicampur dengan rebung serta dibungkus kulit lumpia. 

Jajanan ini biasanya dipasarkan di Olympia Park, pasar malam Belanda tempat mereka berjualan berdua sehingga nama dari makana ini adalah Lumpia. Usaha yang semakin besar ini kemudian diteruskan oleh anak-anaknya yaitu Siem Gwan Sing, Siem Hwa Noi.

13. Tiwul
Tiwul adalah makanan tradisional dari Gunung Kidul yang terbuat dari olahan singkong. Makanan ini adalah pengganti nasi dan pada zaman penjajahan dulu dijadikan makanan pokok bagi masyarakat dan dimakan bersama lauk pauk serta sayuran. Tiwul dipercaya sebagai makanan pokok yang kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras dan dipercaya mencegah penyakit maag, perut keroncongan, dsb. 

14. Tempoyak
Tempoyak adalah makanan khas Sumatera namun sering dikonsumsi juga di Kalimantan. Tempoyak adalah makanan fermentasi yang berbahan dasar buah durian yang difermentasikan. Tempoyak adalah makanan khas rumpun bangsa Melayu, yaitu suku bangsa Melayu di Indonesia dan Malaysia yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan.

15. Rusip
Rusip adalah makanan tradisional masyarakat Muntok dan sekitarnya. Rusip adalah sambal cocol yang terbuat dari ikan teri atau bilis. Ikan teri yang sudah dibersihkan kemudian difermentasikan dengan garam hingga seminggu

16. Arsik
Ikan Arsik adalah salah satu makanan tradisional yang berasal dari Sumatera Utara. Masakan ini terbuat dari bahan dasar ikan mas yang dimasak dengan bumbu khusus yaitu Andaliman dan Asam Cikala. Ikan Arsik tidak hanya sekedar makanan biasa melainkan memiliki nilai-nilai filosofi tersendiri di dalamnya. Ikan Arsik biasanya disajikan untuk upacara adat tertentu, tidak boleh dilakukan sembarangan agar tidak menghilangkan nilai kesakralan di dalamnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jaminan Mutu Pangan - Sejarah Mutu dan Perkembangan Sistem Mutu

Unggas - Karakteristik Bahan Pangan

Serealia dan Kacang - Kacangan - Karakteristik Bahan Pangan