Budaya Pangan Romawi Kuno

Setelah sebelumnya kita sudah membahas mengenai klappertaart. Sekarang, kita akan membahas mengenai budaya pangan Romawi kuno.

Kayak apa sih budaya makannya mereka? Mereka suka makan apa? Emangnya kelas sosial pada zaman dahulu mempengaruhi makanan dan cara makan orang Romawi?
Yuk simak jawabannya di bawah.

Roma adalah negara di Eropa yang pertama kali memiliki pengaruh kuat dalam kebudayaan dan kebiasaan masyarakat di Eropa, termasuk dalam membentuk budaya makanan di Eropa. Masyarakat Roma pada zaman dahulu juga sering mempersembahkan makanan ke dewa dewa yang mereka sembah. Orang-orang Romawi biasanya menjual makanan di pinggir jalan di setiap jalanan yang ada sehingga jalanan terlihat sangat ramai. Pada zaman itu (30 A.D) juga sudah banyak para ahli pencicip makanan yang terkenal yaitu Marcus, Gaveust, dan Epicurus. Para ahli pencicip dan peracik makanan ini biasanya membuat resep masakan yang baru lalu ditulis di dalam buku resep yang diterbitkan oleh mereka.

Kondisi dapur di Roma sangatlah unik, dapur bangsawan di Roma terlarang untuk dilihat. Dapur di Roma tidak memiliki tempat khusus seperti di rumah-rumah zaman sekarang. Tempat pembuangan air di dapur selalu dekat dengan toilet. Perjamuan makan orang Romawi sangat diapresiasi apabila menyajikan daging panggang manis atau daging cincang. Orang Romawi juga ahli dalam menangkap siput lalu mengolahnya dengan sesuatu seperti daging babi. Selain itu, orang Romawi juga yang pertama kali membuat frankfuter sausages yaitu sosis yang terdiri dari campuran sayuran babi, lada, kunyit, dan daun peterseli. Makanan jenis tersebut sangat banyak sekali di Roma.

Perjamuan makan orang Romawi biasanya terdiri dari 2 sesi yaitu cena dan comissatio. Cena adalah satu sesi dimana di dalam sesi tersebut hanya ada makanan dan minuman pada umumnya saja seperti makan malam biasa, sedangkan comissatio biasanya dilakukan setelah cena yaitu meminum wine yang disediakan oleh penjamu makan malam tersebut. Waktu selesainya comissatio biasanya sampai tengah malam. 

Orang-orang kaya di Roma memiliki kebudayaan gaya makan yaitu setiap makan, minum, atau mengonsumsi makanan ringan, posisi tubuh nya selalu tiduran lalu sikut tangan kiri menahan badan di sofa dan tangan kanan mengambil makanan atau camilan yang disediakan. Seperti pada gambar berikut ini:

Ruangan makanan orang-orang kaya di Roma mempresentasikan dunia dan dewa-dewa yang mereka sembah. Contohnya adalah terdapat ruangan makanan yang memiliki lubang-lubang, dimana hal tersebut merepresentasikan dunia dewa-dewa, lalu terdapat meja dan orang yang sedang makan dimana itu merepresentasikan bumi, dan lantai merepresentasikan kematian.
Sedangkan orang-orang Roma yang kelas sosialnya rendah, sangat hemat sekali dalam hal makanan, ruangan makan mereka pun terbatas, tidak memiliki kursi sehingga hanya duduk saja di lantai.

Makanan sehari-hari orang Romawi itu seperti orang Yunani yaitu rendah protein, hanya mengonsumsi sereal atau makanan dari daerah yang jauh seperti rempah dari India. Banyak mitos bermunculan tentang kebudayaan makanan orang Romawi yang berkata bahwa orang Romawi tidak diperbolehkan mengonsumsi babi. Pada kenyataannya, banyak dari mereka yang memelihara babi dan mengonsumsi babi, bahkan membiakkan dan berternak babi agar dapat lebih sering mengonsumsi babi dengan direbus atau dijadikan bakso.

Orang Romawi menyebut sarapan pagi dengan istilah ientaculum, biasanya hanya mengonsumsi roti keju, madu, olive oil, dan kadang sedikit buah. Sedangkan makan siang disebut dengan prandium. Biasanya orang-orang miskin hanya mengonsumsi potongan roti. Penjual makanan yang berada di pinggir-pinggir jalan juga menjual makanan yang panas dan siap untuk dimakan. Wilayah yang menjual makanan disebut dengan thermopilium. Biasanya disana menjual makanan yang berbahan dasar sereal, daging rebus, olives, dan buah.

Roti di Roma sangat erat kaitannya dengan dunia politik. Apabila terdapat suatu acara penting kenegaraan, masyarakat di Roma diperbolehkan makan roti yang banyak. Untuk komoditas anggur atau wine, dahulu, beberapa provinsi di Roma adalah ekspotir wine yang terbesar, tetapi dua abad berikutnya, negara Roma menjadi importir terbesar wine karena kerajaannya saat itu terbelah menjadi dua.
Di Roma, ada kepercayaan mengenai dewa wine yang bernama Bachus atau Dionisius. Orang-orang suka memberikan persembahan berupa wine kepada Bachus. Banyak anggur-anggur yang dijual di pasaran dengan warna yang berbeda-beda. Orang Romawi tidak menyukai rasa anggur merah, mereka menyukai rasa anggur putih. Biasanya orang Romawi mengonsumsi wine dengan tidak mengencerkannya terlebih dahulu. Budaya makanan tentang wine ini diikuti oleh orang orang Gallo Roma. Pada zaman ini belum ada quality control wine, yang dipentingkan hanya kuantitas yang banyak saja yang dihasilkan, dengan cara menginjak-injak anggur agar keluar tetesan-tetesan air atau dipress menggunakan kayu yang berat lalu kemudian diberikan madu untuk menjadi wangi-wangiannya.

Selain anggur, orang Romawi juga khas dengan seafood. Apabila permintaan akan seafood tinggi, maka harganya dapat menjadi mahal. Banyak orang Romawi yang mengembangbiakan ikan karena Roma juga dekat dengan laut. Apabila memasak ikan, orang Roma tidak membuang sedikitpun bagian dari ikannya. Orang Roma juga sering mengolahnya menjadi saus ikan yang diberi nama garum. Banyak orang yang suka garum hingga terkenal sampai Asia.

Di Roma, banyak orang yang mengembangbiakan unggas dan memberikan suntikan agar jadi gemuk dan montok, tanpa memperdulikan usia unggas. Tetapi lama kelamaan, orang Romawi berpikir bahwa unggas dan sesuatu yang terbang adalah makanan yang sangat memaksa, tidak seperti buah favorit orang Roma yang mudah didapatkan, seperti figs.

Figs mempunyai 25 varietas yang ditemukan oleh Romulus dan Remus pada saat menemukan Roma. Buah ini adalah buah khas Roma sehingga setiap meja makan selalu ada buah figs. Buah figs ini juga dapat dikonsumsikan dengan madu dan dibawa saat akan perang, apabila buah ini dikumpulkan menjadi banyak, maka menandakan bahwa sebentar lagi akan ada. Pada saat perang, prajurit-prajurit yang sedang perang, ada yang mengatur makanan mereka. Biasanya mendapatkan 1,4-1,5 kg dalam setiap harinya dan masak memasak dilakukan di tenda dengan bumbu seperti madu, cumin atau telur. Seorang gladiator juga ada tempat khususnya, disana mereka di rawat, diperiksa oleh dokter, lalu diberikan makanannya berdasarkan berat badan dan program trainingnya. Mereka mengonsumsi sereal, chickpeas, dan makanan yang memiliki kadar gula yang rendah. Tidak boleh minum wine dan hanya boleh meminum air saja yang tidak terlalu dingin.

Buah olive juga merupakan salah satu komoditas khas Romawi. Awalnya orang Romawi tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk memetik buah olive sehingga para economist mengajarkan mereka kapan memetik disaat yang tepat agar mendapatkan keasaman yang sesuai. Selain untuk dimakan, biasanya olive oil dijadikan bahan bakar pencahayaan lampu. Apabila akan dikonsumsi, biasanya olive oil ditambahkan flavor dan mereka juga menanam mint, ketumbar, bawang, seledri, kunyit, atau daun salam. Lalu kemudian campuran ini ditambahkan ke daging cincang dan memiliki flavor yang enak.

Epicurus, pencicip dan peracik makanan yang terkenal, sering memberikan resep makanan seperti bunga mawar yang dicampur dengan ayam syang sudah diberikan rempah-rempah. Lama kelamaan, Epicurus pensiun dan diambil alih oleh Marshall, tetapi Marshall ini sifatnya buruk yaitu rakus.

Epicurus memiliki murid yang bernama Mari Arzak, beliau memiliki restoran bintang tiga dan Mari Arzak berpendapat bahwa kebudayaan pangan Roma itu, makanan harus memiliki tingkat kemanisan dan keasinan yang sesuai. Sehingga, Mari Arzak mulai menciptakan resep masakan yang baru dan beliau mencetuskan bahwa dekorasi di dalam makanan itu sangat penting untuk menggunggah selera, jadi oleh sebab itulah makanan makin lama makin memiliki bentuk yang bagus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jaminan Mutu Pangan - Sejarah Mutu dan Perkembangan Sistem Mutu

Unggas - Karakteristik Bahan Pangan

Serealia dan Kacang - Kacangan - Karakteristik Bahan Pangan