China on Tounge Part 1

Setelah membahas budaya makanan romawi kuno, maka sekarang kita berpindah ke asia, yaitu ke China. Mari kita sama-sama melihat bagaimana budaya makanan yang ada di China ini berkembang. Artikel di bawah ini merupakan ringkasan dari video China on Tounge part 1.

Pengalaman hidup setiap orang berbeda-beda, banyak orang yang mengelilingi dunia dan kemudian tidak menutup kemungkinan untuk bermigrasi ke tempat yang baru dan kemudian membawa budaya mereka ke dalam tempat tinggal mereka yang baru. Begitu juga terjadi pada budaya makanan sehingga terjadi evolusi kuliner, salah satunya adalah teknik-teknik memasak. Terdapat sepasang suami isteri yaitu Tan Wang Shu dan isterinya yang merupakan petani lebah selama 20 tahun. Setiap musim semi tiba, mereka selalu pergi ke pegunungan Ching untuk mendapatkan bunga yang memproduksi madu yang terbaik. Pencarian sarang lebah pun sangat sulit dan membutuhkan perjuangan yang cukup berat seperti memanjat pohon dan memerlukan waktu yang sangat lama. Oleh sebab itu, penduduk setempat Tibet menganggap bahwa madu merupakan makanan yang berharga dan bergizi. 80 persen komposisi madu terdiri dari fruktosa dan glukosa, tidak seperti cane sugar yang mudah diserap  oleh tubuh. Pencarian madu di Tibet ini sering disebut dengan journey of 1000 miles.

Isteri dari Tan Wang Shu sering membuat masakan tradisional seperti tahu. Mereka dapat membuat tahu dengan cara yang sederhana yaitu dengan mencampurkan susu kedelai dengan air garam kemudian dipanaskan. Tindakan ini membentuk bean curd karena adanya restrukturisasi. Air yang berlebihan ini kemudian dibuang dan struktur tahu akan terbentuk. Perubahan struktur tahu ini kemudian akan mempengaruhi rasa tahu.

Di sebelah utara Pegunungan Ching, terdapat perkebunan gandum. Pada saat setiap musim panen tiba, panen dilakukan dengan tidak menggunakan mesin otomatis tetapi menggunakan tenaga manusia. Gandum dapat diolah menjadi bahan makanan, contohnya adalah mie. Mie terbuat dari tepung gandum dengan cara memotong adonan menjadi lembaran dengan lebar 3 cm dan harus dimasak dengan suhu yang tepat agar tekstur menjadi sempurna. Biasanya di China, mie disajikan dengan saus yang terbuat dari campuran wortel, jamur hitam, tahu sutera, dan minyak zingy yang dicampur dengan cabai.

Sumber makanan di China tidak hanya berasal dari pegunungan yang tinggi seperti gandum dan madu saja, tetapi dapat pula berasal dari laut. Namun, para peneliti memprediksi dalam 50 tahun kedepan, stok ikan laut di Cina akan habis.

Selain itu, komoditas yang biasanya digunakan untuk dikonsumsi adalah jamur shitake yang biasanya tumbuh di batang pohon yang mati. Untuk mencari dan mengolahnya membutuhkan waktu yang sangat lama. Tetapi dewasa ini, jamur shitake dibudidayakan secara komersial. Meskipun jamur ini tidak terlihat bagus, tetapi rasanya enak dan bergizi.

Jamur shitake tumbuh perlahan di iklim yang sejuk. Jamur ini terdiri dari 90% air, umumnya sebelum diperjualbelikan, jamur ini dikeringkan sehingga mengeluarkan aroma karena adanya asam guanilyc.

Selain itu, komoditas laut lainnya adalah gurita. Gurita ini disebut octopus tight gazers karena keluar saat pasang tinggi dan bersembunyi ketika sudah surut. Nelayan juga berburu mudskipper, hewan amfibi yang banyak bersembunyi di lumpur. Untuk menangkapnya, nelayan membutuhkan bertahun tahun untuk menemukan teknik yang benar untuk mendapatkan mudskipper. Mudskipper sering dijadikan sup atau diolah dengan dibakar di atas jerami dan mengeluarkan minyak. Setelah kering, mudskipper dijadikan bumbu untuk melengkapi masakkan lain. Di bawah ini merupakan penampakan dari mudskipper di lumpur :)

Image result for mudskipper

Di salah satu daerah di China yaitu di desa Chun Su Go, terdapat tradisi memasak menggunakan wajan besar yang panas, kemudian, adonan tepung yang terbuat dari ground dried sweet potato, soya, gandum, sorgum, yang sudah dibuat ditempelkan pada wajan tersebut lalu membentuk pancake yang renyah dan perlahan-lahan menjadi kenyal lalu digunakan di dalam berbagai macam jenis makanan untuk membungkus daging, ikan, atau salad.

Dahulu, menurut warga lokal Shandong, pancake merupakan makanan terbaik pada musim semi, tetapi di Guang Dong, pancake sudah berevolusi dan banyak dijajankan di pasaran dengan pembuatan yang lebih instan dan praktis yaitu dengan diisi kacang hijau, udang kering, atau saus ikan yang kemudian digulung dan digoreng.

Di Yunan, ada makanan yang terbuat dari ikan. Prosesnya adalah membuat ketan dan membungkusnya, sebelum pemberian ragi untuk fermentasi. Ikan mas yang telah dibersihkan diatur di atas pembakaran, dan kemudian dibakar semalaman. Lalu ikan dipadukan dengan ketan yang telah difermentasi. Pada proses fermentasi, kapang tumbuh dan menciptakan flavor yang manis dan asam, karena adanya konversi pati menjadi gula. Ketan juga dicampur dengan garam dan cabai lalu dikukus atau digoreng.

Di Yunan juga ada pula tradisi pembuatan saus ikan yaitu dengan mencampurkan ikan dengan cabai, jahe untuk menetralkan amis, lada yang memiliki aroma yang kuat, dan garam sebagai pengawet, lalu diaduk hingga merata. Setelah dua minggu, saus ikan siap digunakan. Aroma dan rasanya telah berubah karena adanya produksi asam laktat. Saus ikan ini biasanya digunakan sebagai tambahan bumbu dan merupakan kebanggaan masyarakat lokal.

Biasanya tradisi di China, orang yang sudah meninggalkan negaranya dalam jangka waktu lama, apabila dia datang kembali, maka mengadakan pesta penyambutan yaitu dengan makan dan minum.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jaminan Mutu Pangan - Sejarah Mutu dan Perkembangan Sistem Mutu

Unggas - Karakteristik Bahan Pangan

Serealia dan Kacang - Kacangan - Karakteristik Bahan Pangan